New York - Sebuah studi baru terkait dengan sebuah obat HIV populer dapat meredakan kekhawatiran mengenai kaitan antara obat itu dengan depresi.
Para peneliti di Uganda menemukan bahwa efavirenz, yang sebelumnya dikhawatirkan dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri, ternyata tidak menyebabkan efek samping yang dikhawatirkan tersebut kepada para pasien pengguna obat tersebut, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Minggu (1/7/2018).
Efavirenz adalah, pil dengan harga terjangkau yang dikonsumsi sekali sehari yang digunakan di seluruh dunia untuk mengobati dan mencegah HIV/AIDS.
Obat ini 'disukai' oleh sebagian besar pasien di dunia, menurut Mark Siedner dari Africa Health Research Institute -- khususnya di negara-negara yang bergantung pada bantuan global untuk pengobatan HIV.”
Namun ada yang mengkhawatirkan efek samping dari efavirenz.
Beberapa studi di AS dan Eropa menemukan risiko dari penggunaan obat tersebut yang dapat menyebabkan depresi atau bunuh diri, sementara studi lain yang dilakukan tidak menemukan risiko tersebut.
Hasil temuan yang berbeda tersebut telah mendorong banyak dokter di Amerika Serikat untuk memberikan obat yang lebih mahal namun dianggap lebih aman.
Siedner ingin mengamati sekali lagi tentang risiko dari depresi, kali ini pada populasi di Afrika. Dari tahun 2005 hingga 2015, ia dan sebuah tim yang terdiri dari dokter-dokter Uganda dan AS melacak 694 pasien yang mengkonsumsi efavirens atau pengobatan antiretroviral lainnya. Secara reguler mereka bertanya kepada para pasien itu apakah mereka mengalami depresi atau mempertimbangkan untuk melakukan bunuh diri.